1,6 Juta Warga Cina Tewas Setahun Akibat Polusi Udara

1,6 Juta Warga Cina Tewas Setahun Akibat Polusi Udara

Jumlah kematian meningkat seiring bertambahnya usia penduduk.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Masalah polusi udara masih membekap Cina. Menurut Health Effects Institute (HEI), Negeri Tirai Bambu menghadapi sekitar 1,6 juta kematian dini per tahun akibat polusi udara.

HEI, sebuah lembaga penelitian kesehatan yang berbasis di Amerika Serikat (AS) mengatakan, Pemerintah Cina telah mereduksi konsentrasi partikel berbahaya yang dikenal sebagai PM2.5 sebesar 6,5 persen di 338 kota tahun lalu.

Kawasan utara yang rawan asap juga telah memenuhi target kualitas udara tahun 2013-2017. Hal tersebut berhasil dilakukan setelah Pemerintah Cina memangkas hasil industri, konsumsi batu bara, dan lalu lintas.

Kendati demikian, studi HEI menunjukkan kematian akibat polusi udara di Cina masih dapat meningkat. Hal ini karena secara keseluruhan kualitas udara di negara tersebut masih di bawah standar.

“Orang-orang hidup lebih lama dan orang yang lebih tua rentan terhadap penyakit yang terkait erat dengan polusi udara, penyebab utama kematian di Cina, seperti strok, serangan jantung, dan kanker paru-paru,” ungkap Presiden HEI Dan Greenbaum pada Selasa (17/4).

“Kami telah melakukan beberapa proyeksi di Cina hingga 2030, dan bahkan dengan peningkatan kualitas udara, Anda melihat jumlah kematian meningkat seiring bertambahnya usia penduduk,” kata Greenbaum.

Jumlah manusia berusia di atas 60 tahun di Cina mencapai 240 juta orang pada akhir 2017. Jumlah ini menyumbang sekitar 17,3 persen dari populasi keseluruhan masyarakat Cina. Asosiasi Jaminan Sosial Cina, kelompok riset yang terdaftar di pemerintah memperkirakan jumlah manusia berusia di atas 60 tahun akan bertambah menjadi 400 juta orang pada 2035.

“Ketika pemerintah (Cina) mempersiapkan rencana aksi kabut asap baru untuk 2018-2020, langkah-langkah berikutnya bisa lebih sulit untuk dilaksanakan. Polusi itu sendiri semakin sulit untuk ditangani dan meskipun Cina telah membuat kemajuan, itu sudah cukup banyak diratakan,” kata Greenbaum.

Ia mengatakan, salah satu tantangan yang mesti dihadapi Pemerintah Cina adalah menertibkan pabrik-pabrik kecil yang memproduksi partikel PM2.5. Studi HEI pun menyarankan otoritas berwenang Cina fokus pada pedesaan, di mana polusi dalam ruangan yang disebabkan pembakaran bahan bakar langsung menyumbang lebih dari sepertiga total kematian tahunan.

Pembakaran batu bara atau biomassa dalam ruangan untuk memasak menyebabkan tingkat penyakit paru obstruktif kronik lebih tinggi di daerah pedesaan. Pemerintah Cina sendiri telah memberkan insentif agar penduduk desa beralih menggunakan gas atau biogas, namun tampaknya langkah tersebut belum efektif.

Saat ini Pemerintah Cina sedang berupaya memperbaiki kualitas udaranya. Cina dilaporkan siap menggelontorkan dana sebesar lebih dari 360 miliar dolar AS hingga 2020 di sektor energi terbarukan, seperti energi surya, air, angin, dan nuklir. Hal ini dilakukan guna melepas ketergantungan Cina terhadap penggunaan batu bara.

Industri Cina diketahui masih cukup bergantung pada batu bara. Namun penggunaan batu bara dalam jumlah besar telah menyebabkan Cina menjadi negara penghasil gas emisi terbesar di dunia.

Sumber Berita Republika.co.id Agen Bola