4 Ortu Korban Bom Samarinda Minta Kompensasi Pengobatan Anaknya

4 Ortu Korban Bom Samarinda Minta Kompensasi Pengobatan Anaknya

Jakarta – Orang tua korban bom gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur, Marsiana Tiurnovita meminta bantuan dana kompensasi untuk biaya operasi anaknya, Alfaro Sinaga. Marsiana menyebut kepala anaknya terbakar dan harus dioperasi berulang kali akibat bom itu.

“Setelah kejadian ini. Biaya operasi sangat besar. Memang kemarin sejak (kejadian) ada yang menyerahkan kompensasi. Saya mendapatkan bantuan dari Presiden dan itu sudah saya gunakan untuk satu kali operasi, sementara anak saya masih ada sekitar 2-3 kali operasi lagi,” kata Marsiana saat bersaksi di sidang lanjutan Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (17/4/2018).

Marsiana mengatakan anaknya saat ini dibawa ke Kuala Lumpur untuk operasi penumbuhan rambut. Sebab akibat kejadian itu rambut anaknya tidak dapat tumbuh.

Dia mengaku tidak memiliki uang untuk biaya operasi karena anaknya harus menjalani operasi sampai 3-4 kali. Hingga kini ia masih mencari uang untuk operasi ketiga sampai terakhir.

“Jujur saya butuh dana dan untuk operasi kedua, saya sudah memperoleh ada bantuan dari bantuan sosial, dan untuk operasi selanjutnya saya masih mencari. Saya harus operasi ketiga sampai terakhir saya masih cari dana untuk anak saya,” kata Marsiana sambil terisak.

Marsiana meminta maaf dan mengaku bingung meminta bantuan kepada siapa. Sebab anaknya harus menjalani perawatan suntik tiap minggu.

“Saya nggak tahu mau meminta bantuan ke siapa lagi. Karena anak saya setiap minggu harus suntik. Saya mohon maaf saya tidak tahu mau minta bantuan sama siapa lagi,” ujarnya.

Ada empat 4 orang tua korban bom Samarinda yang jadi saksi dalam sidang hari ini. Selain Marsiana, 3 orang tua korban lainnya juga meminta kompensasi kepada negara melalui PN Jaksel.

Orang tua korban bom Samarinda, Jackson Sihotang mengatakan anaknya mengalami luka bakar di tangan dan punggungnya. Ia juga meminta kepada pemerintah memberikan kompensasi.

“Kalau boleh dibantu itu kalau bisa istilahnya bagaimana caranya, solusinya mengobati bekas lukanya, Bu,” ujarnya.

Sementara itu, orang tua korban lainnya, Dorta Manaek juga meminta kompensasi atas motornya yang terbakar. Anaknya juga terkena percikan api saat bom meledak.

Anggiat Manumpak yang ananknya juga menjadi korban meminta kompensasi karena dirinya tidak bekerja selama 3 minggu. Anak Anggita meninggal dalam peristiwa bom tersebut.

Jaksa meminta izin kepada majelis hakim untuk mengajukan kompensasi atas kerugian yang dialami para saksi. JPU Mayasari meminta para saksi memberikan perincian obat-obatan untuk mengajukan sebagai kompensasi.

Maya menyebut data pengajuan kompensasi akan diserahkan ke majelis hakim. “Untuk bantuan perawatan itu nanti ibu ajukan resmi ke LPSK,” kata JPU Mayasari.

Aman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman didakwa menggerakkan orang lain dan merencanakan sejumlah teror di Indonesia termasuk Bom Thamrin 2016. Oman dinilai telah menyebarkan paham yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan objek-objek vital.

Oman melakukan hal tersebut setidak-tidaknya dalam kurun waktu 2008-2016 di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, Samarinda, Medan, Bima dan Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Penyebaran paham tersebut diawali dengan ceramah yang disampaikan Oman.

(yld/idh)

Sumber Berita Detik.Com Sbobet