Duka Ortu Korban Bom Gereja Samarinda yang Anaknya Belum Sembuh

Duka Ortu Korban Bom Gereja Samarinda yang Anaknya Belum Sembuh

Jakarta – Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan 4 saksi orang tua yang anaknya menjadi korban bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur dalam sidang lanjutan Aman Abdurrahman. Salah satu orang tua korban, Marsiana Tiurnovita mengatakan anaknya belum sembuh hingga kini.

Marsiana menceritakan anaknya, Alfaro Sinaga yang terkena ledakan bom hingga kini sudah beberapa kali dioperasi. Operasi itu untuk menyembuhkan bekas luka, operasi tempel kulit hingga operasi di kepala.

Marsiana mengatakan saat ini anaknya dibawa ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk operasi penumbuhan rambut. Karena saat kejadian rambut anaknya terbakar dan tidak dapat tumbuh.

“Keadaan Alfaro sekarang masih di Kuala Lumpur sejak 5 Februari sudah operasi pertama. Setelah 5-7 bulan sudah ada 3 atau 4 kali operasi. Orang tuanya sendiri yang bawa. Di negeri kita ada untuk operasi tempel kulit, kalau di Kuala Lumpur untuk pemasangan rambut,” kata Marsiana sambil terisak saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (17/4/2018).

Marsiana mengatakan ia juga dibantu oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk sebagian biaya pengobatan. Marsiana menambahkan hingga kini anaknya masih trauma. Alfaro langsung menjerit bila mendengar suara keras.

“Kalau mendengar suara keras itu langsung menjerit. ‘Aduh mama'” kata Marsiana menirukan Alfaro.

Selain itu, JPU juga menghadirkan saksi orang tua korban lainnya, yakni Anggiat Manumpak Banjarnahor, Jackson Siotang, dan Dorta Marnaek. Anggiat menyebut anaknya meninggal dunia akibat peristiwa itu karena terkena ledakan.

Sementara, Jackson mengaku anaknya mengalami luka bekas terbakar di punggung dan tangan. Jackson mengaku anaknya juga masih trauma.

“Daerah tangan sama punggung masih ada lukanya. Kalau bermain memang sama Yang Mulia tapi psikologisnya karena traumanya Yang Mulia,” kata Jackson.

Sebelumnya, Aman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman didakwa menggerakkan orang lain dan merencanakan sejumlah teror di Indonesia termasuk Bom Thamrin 2016. Oman dinilai telah menyebarkan paham yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan objek-objek vital.

Oman melakukan hal tersebut setidak-tidaknya dalam kurun waktu 2008-2016 di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, Samarinda, Medan, Bima dan Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Penyebaran paham tersebut diawali dengan ceramah yang disampaikan Oman.
(yld/idh)

Sumber Berita Detik.Com Sbobet