Jokowi Vs Prabowo, Siapa Bisa Rebut Suara Milenial?

Jokowi Vs Prabowo, Siapa Bisa Rebut Suara Milenial?

Jakarta – Jumlah pemilih milenial di Pemilihan Umum 2019 diperkirakan cukup besar dan sangat menentukan kemenangan partai mau pun calon presiden dan wakil presiden. Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting mengatakan jumlah pemilih milenial yakni yang berusia 19 sampai 38 tahun mencapai 45 persen dari jumlah pemilih nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), menyebut pada 2019 ada 196, 5 juta jiwa calon pemilih. Sehingga diperkirakan jumlah pemilih milenial mencapai sekitar 88 juta orang. “Angka yang cukup menggiurkan,” kata Pangi saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/4/2018).

Wajar jika kemudian partai politik, termasuk Jokowi dan Prabowo yang akan maju di Pilpres 2019 berusaha merebut hati kalangan milenial. Jokowi mulai masuk pada hobi yang disukai oleh komunitas tertentu. Misalnya dengan cara berpakaian, gaya bahasa, bermusik hingga touring menggunakan motor chopper.

Menurut Pangi dibanding Prabowo, Jokowi lebih diterima kalangan milenial. Soal jumlah pasti yang akan memilih Jokowi di Pilpres nanti tentu harus dilakukan survei terlebih dahulu. “Jokowi yang paling bisa terkoneksi, masuk ke dunia generasi milenial, terkesan alamiah tanpa dibedakin,” paparnya.

Generasi milenial, kata Pangi, tak pernah mau pusing dan bertanya soal prestasi atau kinerja presiden. Maka ketika presiden Jokowi masuk pada komunitas mereka, seperti pakai motor chooper, sepatu Sneaker, kaus oblong, olahraga tinju, generasi milenial yang saat ini banyak mengidolakan Dilan, -tokoh utama dalam film Dilan 1990-, akan merasa senang.

“Jokowi masuk dalam tiga hal yang disenangi melenial yaitu musik atau film, olahraga, dan teknologi IT,” ujar Pangi.

Director Centre for Presidential Studies, Departemen Ilmu Komunikasi, UGM, Nyarwi Ahmad mengatakan generasi milenial dan post milenial umumnya familiar dengan dunia digital. Mereka sangat aktif dalam berbagai platform sosial media.

Generasi ini, lanjut Nyarwi, memiliki bahasa-bahasa khas yang seringkali lebih menonjolkan aspek emosional daripada rasional. “Mereka lebih tertarik dengan elemen-elemen yang menjadi ciri khas atau keunikan figur tertentu dari pada apa yang diomongkan oleh figur tersebut,” kata Pangi.
(erd/jat)

Sumber Berita Detik.Com Sbobet