Mengenal Hot’s, Penyebab Soal UNBK Dikeluhkan Begitu Sulit

Mengenal Hot’s, Penyebab Soal UNBK Dikeluhkan Begitu Sulit

Jakarta – Soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dikeluhkan oleh banyak siswa karena dianggap begitu sulit. Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan soal-soal sulit itu karena adanya soal jenis higher order thinking skills (hot’s) yang disisipkan. Apa sih Hot’s itu?

“Tahun ini mulai disisipkan soal-soal untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa (higher order thinking skills). Tetapi jumlahnya kurang dari 15 persen. Jadi mestinya soal yang bertingkat kesulitan ringan dan sedang jauh lebih banyak,” kata Muhadjir kepada detikcom, Selasa (17/4/2018).

Higher order thinking pertama kali dikemukakan oleh seorang penulis sekaligus assosiate professor dari Dusquance University bernama Susan M Brookhart dalam bukunya How to Assess Higher-order Thinking Skills in Your Classroom (2010). Dia mendefinisikan model ini sebagai metode untuk transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan juga pemecahan masalah.

Merujuk pada jurnal berjudul Higher Order Thinking Skills karya FJ King PhD, Ludwika Goodson PhD, dan Faranak Rohani PhD di Center for Advancement of Learning and Assessment, Hot’s merupakan perpaduan empat hal, yakni kemampuan untuk memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis, berfikir kreatif, kemampuan berargumen serta kemampuan mengambil keputusan.

Hot’s tak sekadar model soal saja, tetapi mencakup pula model pengajaran. Model pembelajaran harus mencakup kemampuan berpikir, contoh atau pengaplikasian pemikiran, dan diadaptasikan dengan kebutuhan siswa yang berbeda-beda.

Ada pula model penilaian dari hot’s yang mengharuskan siswa tak familiar dengan pertanyaan atau tugas yang diberikan. Ini dimaksudkan agar siswa memiliki cukup pengetahuan awal untuk menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Menurut jurnal tersebut, ada 3 format item dalam pengujian hot’s. Format itu yakni (a) seleksi; termasuk pilihan ganda, mencocokkan, dan pemeringkatan, (b) umum; termasuk esai, jawaban singkat, dan tugas-tugas, (c) penjelasan, yang menuliskan alasan mengapa jawaban itu dipilih.

Robyn Collins dalam tulisannya berjudul ‘Skills for the 21st Century: teaching higher-order thinking’ yang dimuat dalam situs curriculum.edu.au (2014) menyebut higher order thinking untuk mempersiapkan masyarakat memasuki abad 21. Dia banyak mengutip pendapat Brookhart dalam penjabarannya mengenai higher order thinking skills.

Agaknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sepakat dengan pendapat bahwa higher order thinking skills sebagai penilaian dan pembelajaran abad 21. Dalam pemaparannya, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Nizam, menjabarkan tentang membangun kompetensi abad 21.

“Siswa harus dibiasakan dengan soal-soal kecakapan berpikir orde tinggi(HOTS),” tulis Nizam dalam paparannya yang diunggah ke situs resmi Puspendik Kemdikbud seperti dikutip detikcom, Selasa (17/4/2018).
(bag/fjp)

Sumber Berita Detik.Com Sbobet