Polisu Ungkap Penyelundupan Batang Pohon Illegal Logging di Papua

Polisu Ungkap Penyelundupan Batang Pohon Illegal Logging di Papua

Jayapura – Aparat Polda Papua menyita 960 batang pohon hasil penebangan ilegal atau illegal logging dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Kayu-kayu ilegal itu rencananya akan dikirim ke Surabaya untuk dipasarkan.

“Yang bekerja adalah Satgas Illegal Logging yang dibentuk oleh Kapolda (Kapolda Papua Irjen Boy Rafli). Satgas baru dua bulan bekerja dan hasilnya ada 17 perkara dan 17 tersangka,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Papua Kombes Edi Swasono dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (17/4/2018).

Edi mengatakan dari 17 kasus, pihaknya berhasil mengamankan 960 batang kayu yang bila dihitung berdasarkan satuan kubik jumlahnya 81,5 meter perkubik. Edi juga menerangkan 17 tersangka merupakan supir truk yang didapati mengangkut kayu tanpa kelengkapan administrasi.

17 tersangka yaitu berinisial AY, HA, BA, OT, RI, AN, IP, RIY, SUP, SA, KRI, TO, RID, MU, ASR, AMI, MS.

“Pelaku melakukan pengangkutan kayu tanpa memiliki dokumen yang merupakan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHHK),” ujar dia.

Sementara itu Kasubdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direskrimsus Polda Papua Kompol Dwi Prasetyo menerangkan 960 batang kayu pohon didapat dari 4 tempat kejadian perkara.

Polisu Ungkap Penyelundupan Batang Pohon Illegal Logging di PapuaFoto: Dok. Direskrimsus Polda Papua

Pertama, pada 18 Februari di ruas Jalan Kampung Nimbontong, Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura. Kedua, pada 22 Februari di lokasi yang sama. Ketiga, pada 27 Maret di Pos Kehutanan Lama, Kampung Waskey, Distrik Sarmi Timur, Kabupaten Sarmi dan terakhir pada 15 April kemarin di Jalan Raya Sentani Expo, Waena, Kota Jayapura.

“Tangkapan (paling banyak) 10 truk kayu pada 27 maret. Itu kerjasama tim gabungan Subdit Tipidter Polda Papua dengan Dinas Kehutanan Provinsi Papua,” ucap Dwi.

Kanit VI Subit Tipidter Ditreskrimsus Polda Papua AKP I Gusti Agung Ananta menjelaskan pihaknya tak berhenti pada penangkapan supir truk pengangkut kayu tersebut. Saat ini penyidik sedang menyelidiki pemilik kayu-kayu ilegal itu.

“Jadi sistem kejahatan ini terputus. Ada orang pergi ke tanah ulayat, kemudian membayar yang punya tanah ulayat agar bisa menebang pohon-pohon. Lalu nanti penjual memanggil supir truk untuk mengirim kayu-kayu itu ke pelabuhan. Dari hasil penyelidikan kayu asal Papua paling banyak didistribusikan ke Surabaya,” jelas Gusti.

“Penyelidikan masih berproses untuk mengetahui siapa-siapa yang terlibat dalam kejahatan ini,” imbuh Gusti.

Gusti mengungkapkan kejahatan illegal logging semakin marak di Papua. Hal itu berdasarkan angka pengungkapan kasus illegal logging yang meningkat.

“Tahun 2016 ada 5 Perkara, tahun 2017 ada 3 perkara) dan Februari sampai April 2018 ada 17. Satu perkara perkara ditangani Dinas Kehutanan atau Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat,” tutur dia.

Menurut Gusti maraknya illegal logging di Papua dikarenakan hutan Kalimantan yang sudah gundul sehingga mafia illegal logging beralih menebangi hutan Papua.

“2018 ini semakin marak illegal logging di Papua karena peralihan dari hutan Kalimantan yang mulai gundul. Kayu yang ditebang itu kayu Merbau yang dikenal kualitasnya bagus,” ungkap Gusti.

Atas kejahatan ini, para tersangka dijerat Pasal 88 ayat (1) huruf a juncto Pasal 16 Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.
(aud/rna)

Sumber Berita Detik.Com Sbobet