Secuil Kisah Pahit di Jalur Gaza

Secuil Kisah Pahit di Jalur Gaza

Perang pada 2014 telah menghancurkan Jalur Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, Raut Abeer Z. Barakat berubah emosional ketika mengisahkan penderitaan masyarakat Palestina di Jalur Gaza. Terkadang ia tak dapat menerjemahkan perasaannya dengan kata-kata dan membiarkan ekspresinya menceritakan apa yang belum terucap.

“Kita tidak hanya kehilangan harta, tapi juga kehilangan kehidupan,” kata Abeer ketika datang ke kantor Republika.co.id pada Jumat (3/8). Abeer adalah dosen Bahasa Inggris di University College of Apllied Sciences (UCAS) di Gaza. Ia pun dikenal sebagai aktivis yang menggerakkan aksi “Great March of Return” pada akhir Maret di perbatasan Gaza-Israel.

Saat berkunjung ke kantor Republika, Abeer menceritakan bagaimana pahitnya menjalani kehidupan di Gaza, sebuah daerah yang telah lebih dari 10 tahun diblokade Israel. Tak hanya memblokade, Israel juga tercatat telah beberapa kali melancarkan agresi besar-besaran ke wilayah itu.

Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada Juli 2014. Kala itu, Israel dilaporkan melancarkan lebih dari 1.300 serangan udara ke Gaza. Sedikitnya 1.800 warga Palestina tewas akibat serangan tersebut. Sementara sekitar 10 ribu lainnya mengalami luka-luka.

“Perang pada 2014 sangat menghancurkan. Banyak penduduk yang rumahnya hancur sehingga mereka harus tinggal di bangunan sekolah, dan tidak ada orang yang bisa datang ke Gaza untuk membantu kami,” kata Abeer.

Blokade selama lebih dari satu dekade juga telah menyebabkan perekonomian Gaza kolaps. Abeer mengungkapkan, Gaza memiliki keunggulan di tiga sektor bisnis, yakni furnitur, garmen, dan pertanian. Namun karena blokade telah mencegat ekspor-impor, proses produksi dan penjualan menjadi mandek.

Ketika bisnis mandek, masyarakat mulai kehilangan pendapatan. Saat para orang tua tak punya penghasilan, mereka tak bisa menyekolahkan anak-anaknya. “Dan ketika kita tak dapat menyekolahkan anak-anak, kita memiliki generasi yang tak teredukasi,” kata Abeer.

Ia pun mengatakan cukup banyak anak-anak di Gaza yang mengidap kanker. Salah satu penyebabnya adalah sangat minimnya ketersediaan air bersih di sana. “Air di Gaza terkontaminasi dan rasanya asin. Mengapa? Karena kita dekat dengan laut,” ucapnya.

Laut di sekitar Gaza telah terkontaminasi karena seluruh aliran pembuangan berakhir di sana. “Jadi bila Anda mengonsumsi air yang terkontaminasi, Anda akan jatuh sakit. Itulah mengapa banyak penderita kanker di Gaza, bahkan anak-anak,” kata Abeer.

Masalah lain yang membekap Gaza adalah minimnya aliran listrik, fasilitas medis, dan obat-obatan. Hal-hal itu membuat kehidupan masyarakat di sana kian terpuruk.

Hiburan masyarakat Gaza mungkin hanya internet. Menurut Abeer, walaupun Gaza merupakan daerah yang diblokade, namun masyarakat di dalamnya masih bisa menikmati akses internet. Hal ini karena masyarakat di sana merancang atau merakit pembangkit daya khusus untuk modem internet.

“Yang lucu adalah, aliran listrik bisa padam, tapi Anda masih bisa melihat orang-orang di Gaza online di Facebook,” kata Abeer seraya tertawa.

Baca juga, Turki Kecam UU Negara Bangsa Yahudi Israel.

Kendati hidup dengan situasi dan kondisi demikian, masyarakat Gaza tak pernah lupa sebab musabab awal yang membuat kehidupan mereka sangat menderita. Hal itu bermula pada 1967, yakni ketika Israel mengusir mereka dari tanahnya dan menjadikan mereka pengungsi. “Saya juga adalah seorang pengungsi, pengungsi di negara saya sendiri,” ujar Abeer.

Oleh sebab itu, setiap tanggal 30 Maret, warga Palestina di Gaza memperingati “The Land Day” guna mengenang warga Palestina yang terbunuh pada 1967. The Land Pay juga merupakan bentuk penegasan bahwa masyarakat Palestina di Gaza tak akan melupakan dan meninggalkan tanahnya yang kini diduduki Israel.

Pada 30 Maret lalu, warga Gaza menggelar aksi “Great March of Return”. Tujuan aksi itu serupa, yakni menekan Israel dan mencoba melambungkan kembali soal isu pengungsi. “Karena kita meyakini hak kita untuk kembali,” kata Abeer.

SBOBET Indonesia | Daftar Sbobet Bola Casino Online